Di kelas ini saya merasa paling dispesialkan. Bahkan saya bisa membayangkan wajah-wajah perwalian saya sampai sekarang.
Reza si cokelat yang kurus, kecil; Ahmad Siswandi yang selalu saya panggil ISIS; Altico yang bertubuh penuh, suka senyum, dan anstusias saya memanggilnya TICO; Annisa pendiam tidak banyak tingkah; Arif Setiawan anak orang Jawa dan sempat curhat saat dia mulai sering tidak masuk karena diminta orangtuanya untuk bekerja saja dan tidak perlu sekolah; Caroline cewek yang tinggi dan murah senyum, Devansyah selalu antusias dan memahami setiap yang saya jelaskan. Dimas Tri Ramadan adalah sang ketua kelas yang fisiknya kecil, pendek, sempat meminta undur diri sebagai ketua tapi saya tolak. Saya lupa alasannya, tapi hati saya mengatakan jika dia adalah sosok ketua kelas yang paling tepat.
Diva Andira fisiknya kecil. Kami memanggilnya adik atau DEDEK. Farel Paputungan fiisknya putih, bertubuh sedang, tapi kemayu. Jarang bergaul dengan anak-anak lelaki lain. Farhan Buntuan pendiam, tidak banyak tingkah, tapi disiplin. Fatur harus banyak perhatian agar tidak ikut teman-temannya yang kurang baik. Bahkan saya sempat mencarinya sampai MAN karena ada laporan dia membolos. Filippo Inzaghi pemilik nama unik, bertubuh full, dan antusias. Firja penurut, tidak banyak tingkah.
Firmansyah anak bapak yang bekerja di tambang Papua. Dia ganteng, selalu PD dengan itu. Bapaknya pernah memberi oleh-oleh berupa kacamata dan sepatu proyek yang bagian depannya besi. Fitria sang bendahara kelas, Fitriani Pasi kami panggil PITI, Fitriani Taha gemuk dan ramah sampai setiap kali kita bertemu, Geini Alfriani Mokoagow seorang albino yang unik dan antusias di setiap pertemuan. Ia berkawan dekat dengan si Diva. Pokoknya ada Geini, ada Diva.
Gilang Bida pendiam, tidak banyak tingkah dan paling disiplin. Ilham perlu banyak perhatian karena malasnya minta ampun. Dia hadir, tapi tugas-tugas selalu ditunda. Jihad selalu berkopyah putih dan disiplin. Jihan humble, ramai tapi selalu membuat tugas. Ia takkan menyia-nyiakan amanah jika dititipkan. Keysi Laute sosok yang suka bergaul. Khairun sosok pendiam dengan rumah di Lobong (paling jauh) dan salah satu siswa terpintar. Lisi si murah senyum, Marhamah si kecil anak orang Jawa yang pintar.
Mili Manggopa anak yang pernah aku temui saat hari raya Idul Fitri pelesir bersama teman-temannya di rumah saat dia SD dan ketika saya tanya lanjut di mana, tegas ia menjawab MTs. Berjodoh jadi anak saya di perwalian kelas 8B.
Nadya pendiam, Nana yang super duper ceret bukan main, Rahmat Beni yang tak banyak cakap, Rena Lobata yang penurut dan antusias, Reswara Adilah Masloman si wakil ketua yang penurut dan sangat amanah. Risma anaknya Cak Bambang, Shella Manoppo siswa terpintar, Shinda yang hahehahe senyam-senyum tapi penurut, Siti Anggraini Dunggio yang rumahnya di Molinow, pemilik tahi lalat di atas bibir; Siti Nuraisyah yang rumahnya di Lorong Hijrah dan dipanggil Inul. Siti Zuleha Kustomo yang sangat pendiam. Syadina si paling disiplin yang butuh arahan agar lebih baik, Tracy gadis berjerawat anak Motoboi, dan Yuliana Lasahidi yang kulitnya seperti Reza dan aktif.
Pada perwalian di kelas ini, beberapa momen yang saya tangkap sebagai berikut:
Saya paling tidak suka melihat anak yang Alpa. Sehingga ketika saya lihat ada satu saja anak tidak masuk, akan saya hubungi orangtuanya. Trik saya, menghubungi orangtua harus di depan anak-anak lain. Sehingga semua tahu jika anak tersebut bolos, alpa, izin, atau bahkan sakit.
Saya menerapkan kewajiban untuk salat di Musala. Yang tidak salat akan saya bariskan beberapa saf di depan kelas, lalu saya minta sujud atau melaksanakan gerakan salat sesuai dengan instruksi. Sesekali saya membuat lama di rukuk, sujud, dan sebagainya. Cara ini ternyata sangat ampuh.
Di kelas ini saya dipanggil "Ayah". Panggilan yang menggetarkan hati saya. Mungkin karena saya benar-benar ingin menganggap mereka, anak-anak luar biasa ini, sebagai anak-anak saya. Ketika mereka terancam, saya berjanji akan selalu di depan. Saat melakukan pelanggaran, saya akan yang paling utama menghukum dan menasehati mereka. Ketika mereka berkonflik, selalu saya cari jalan keluar. Saya perhatikan setiap hari, datang ke mereka. Menjenguk jika ada yang sakit, merembug banyak hal untuk masalah-masalah yang datang, selalu ingin kekeluargaan dan kompak, juga segala bentuk perhatian lain. Mungkin, hal itu yang membuat mereka tergerak dan memanggilku dengan sebutan 'ayah'.
Pernah di momen 11 April, mereka saya ketahui belum pulang. Beni datang dan melaporkan jika ada perkelahian di kelas. Saya menyesal tidak berlaga seperti kaget dan marah. Saya datang dengan biasa dan mereka membawa kue juga hiasan-hiasan.

































