Sabtu, 16 September 2023

Ayah

 



Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017.

Di kelas ini saya merasa paling dispesialkan. Bahkan saya bisa membayangkan wajah-wajah perwalian saya sampai sekarang.

Reza si cokelat yang kurus, kecil; Ahmad Siswandi yang selalu saya panggil ISIS; Altico yang bertubuh penuh, suka senyum, dan anstusias saya memanggilnya TICO; Annisa pendiam tidak banyak tingkah; Arif Setiawan anak orang Jawa dan sempat curhat saat dia mulai sering tidak masuk karena diminta orangtuanya untuk bekerja saja dan tidak perlu sekolah; Caroline cewek yang tinggi dan murah senyum, Devansyah selalu antusias dan memahami setiap yang saya jelaskan. Dimas Tri Ramadan adalah sang ketua kelas yang fisiknya kecil, pendek, sempat meminta undur diri sebagai ketua tapi saya tolak. Saya lupa alasannya, tapi hati saya mengatakan jika dia adalah sosok ketua kelas yang paling tepat.

Diva Andira fisiknya kecil. Kami memanggilnya adik atau DEDEK. Farel Paputungan fiisknya putih, bertubuh sedang, tapi kemayu. Jarang bergaul dengan anak-anak lelaki lain. Farhan Buntuan pendiam, tidak banyak tingkah, tapi disiplin. Fatur harus banyak perhatian agar tidak ikut teman-temannya yang kurang baik. Bahkan saya sempat mencarinya sampai MAN karena ada laporan dia membolos. Filippo Inzaghi pemilik nama unik, bertubuh full, dan antusias. Firja penurut, tidak banyak tingkah.

Firmansyah anak bapak yang bekerja di tambang Papua. Dia ganteng, selalu PD dengan itu. Bapaknya pernah memberi oleh-oleh berupa kacamata dan sepatu proyek yang bagian depannya besi. Fitria sang bendahara kelas, Fitriani Pasi kami panggil PITI, Fitriani Taha gemuk dan ramah sampai setiap kali kita bertemu, Geini Alfriani Mokoagow seorang albino yang unik dan antusias di setiap pertemuan. Ia berkawan dekat dengan si Diva. Pokoknya ada Geini, ada Diva.

Gilang Bida pendiam, tidak banyak tingkah dan paling disiplin. Ilham perlu banyak perhatian karena malasnya minta ampun. Dia hadir, tapi tugas-tugas selalu ditunda. Jihad selalu berkopyah putih dan disiplin. Jihan humble, ramai tapi selalu membuat tugas. Ia takkan menyia-nyiakan amanah jika dititipkan. Keysi Laute sosok yang suka bergaul. Khairun sosok pendiam dengan rumah di Lobong (paling jauh) dan salah satu siswa terpintar. Lisi si murah senyum, Marhamah si kecil anak orang Jawa yang pintar.

Mili Manggopa anak yang pernah aku temui saat hari raya Idul Fitri pelesir bersama teman-temannya di rumah saat dia SD dan ketika saya tanya lanjut di mana, tegas ia menjawab MTs. Berjodoh jadi anak saya di perwalian kelas 8B.

Nadya pendiam, Nana yang super duper ceret bukan main, Rahmat Beni yang tak banyak cakap, Rena Lobata yang penurut dan antusias, Reswara Adilah Masloman si wakil ketua yang penurut dan sangat amanah. Risma anaknya Cak Bambang, Shella Manoppo siswa terpintar, Shinda yang hahehahe senyam-senyum tapi penurut, Siti Anggraini Dunggio yang rumahnya di Molinow, pemilik tahi lalat di atas bibir; Siti Nuraisyah yang rumahnya di Lorong Hijrah dan dipanggil Inul. Siti Zuleha Kustomo yang sangat pendiam. Syadina si paling disiplin yang butuh arahan agar lebih baik, Tracy gadis berjerawat anak Motoboi, dan Yuliana Lasahidi yang kulitnya seperti Reza dan aktif.

Pada perwalian di kelas ini, beberapa momen yang saya tangkap sebagai berikut:

Saya paling tidak suka melihat anak yang Alpa. Sehingga ketika saya lihat ada satu saja anak tidak masuk, akan saya hubungi orangtuanya. Trik saya, menghubungi orangtua harus di depan anak-anak lain. Sehingga semua tahu jika anak tersebut bolos, alpa, izin, atau bahkan sakit.

Saya menerapkan kewajiban untuk salat di Musala. Yang tidak salat akan saya bariskan beberapa saf di depan kelas, lalu saya minta sujud atau melaksanakan gerakan salat sesuai dengan instruksi. Sesekali saya membuat lama di rukuk, sujud, dan sebagainya. Cara ini ternyata sangat ampuh.

Di kelas ini saya dipanggil "Ayah". Panggilan yang menggetarkan hati saya. Mungkin karena saya benar-benar ingin menganggap mereka, anak-anak luar biasa ini, sebagai anak-anak saya. Ketika mereka terancam, saya berjanji akan selalu di depan. Saat melakukan pelanggaran, saya akan yang paling utama menghukum dan menasehati mereka. Ketika mereka berkonflik, selalu saya cari jalan keluar. Saya perhatikan setiap hari, datang ke mereka. Menjenguk jika ada yang sakit, merembug banyak hal untuk masalah-masalah yang datang, selalu ingin kekeluargaan dan kompak, juga segala bentuk perhatian lain. Mungkin, hal itu yang membuat mereka tergerak dan memanggilku dengan sebutan 'ayah'.

Pernah di momen 11 April, mereka saya ketahui belum pulang. Beni datang dan melaporkan jika ada perkelahian di kelas. Saya menyesal tidak berlaga seperti kaget dan marah. Saya datang dengan biasa dan mereka membawa kue juga hiasan-hiasan.

Farel, Gilang, Jihad, Lisi, Diva, Firja, Caroline, Geini (dua sebelah kanan dari kelas 8A)









Hai anak-anakku. Entah kalian sudah lupa dengan saya, baik sengaja ataupun tidak, kalian akan tetap saya anggap sebagai anak-anak saya yang luar biasa.
8B 2016/2017 selamanya.
Sukses selalu ya untuk kalian. Setiap lekuk senyuman di kelas itu, takkan pernah Pak Guru lupakan.


Kelas 7 dan Kelas 8 yang Aku Ajar






Chaska Modeong yang aktif, Nazril Hatam yang pandai, Rian yang selalu bingung, Cindra yang selalu tampak gawat, Dona yang pernah ditampar oleh Wahyu Sondakh, Giza yang selalu antusias dan mencari tahu. Salah satu kelas terbaik.

Kelas terbaik lainnya adalah kelas 8A, yang disebut sebagai salah satu kelas kumpulan anak-anak pintar dari kelas 7 tahun sebelumnya.
 

Kelas 9 di Tahun Pertama







 

Rima dan Jihan

Di antara banyak kelas di tahun pertama saya mengajar, paling malas berada di kelas 9A ini. Masih enak mengajar si Amar, Fadlul Hadi, Luckvia, Agam Islam, Rania Mokobombang, Riska Maka maupun Riska Imarto. Paling malas menemui sosok seperti Agif Estian Sengang, Nur Jihan Maleteng, dan Rima Melati Iskandar. Tiga sosok yang pandangannya, raut mukanya, dan sikapnya tampak pandang enteng dengan kehadiranku sebagai guru baru. Tidak ada sikap keduanya yang menunjukkan keramahan, antusias, bahkan sikap menurut seperti siswa-siswi lainnya. Jihan dan Rima memang pandai, tapi apalah arti pandai tanpa diimbangi dengan adab yang baik.

Jihan tidak memiliki sikap yang baik. Bahkan pada saat praktik di Lab Komputer, pernah suatu ketika ada praktik untuk membuat email. Sudah saya wanti-wanti untuk tidak membuka medsos seperti Twitter dan Facebook. Tapi seolah tunarungu, Jihan dan Rima malah bertanya "Apakah boleh membuka FB" di beberapa detik setelah saya menjelaskan. Setelah itu, berdasarkan yang saya lihat dan lekas keduanya minimize, juga atas laporan kawan-kawan mereka, Jihan dan Rima membuka FB dan Twitter.

Saya masih ingat dan akan tetap ingat dengan wajah keduanya. Sosok menjengkelkan yang saya harap tidak saya temui dan rasakan lagi dengan murid-murid saya setelahnya. Karena jika diperingkat mengenai siswa paling menjengkelkan, dua nama tersebut berada di paling atas.

Agif hanyalah dayang dari keduanya. Ia ikut-ikutan saja.

Didatangi dan Dimaki Orangtua Siswa

Peristiwa ini terjadi pada tahun pelajaran 2014-2015. Tapi saya bahas di sini karena tidak ada berkas pada tahun tersebut. Namun tokoh utama berada di salah satu barisan nama di kelas 8H ini.
Saat itu saya mengajar TIK di kelas 9. Terdapat tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa. Tugas tersebut tidak banyak, hingga jika dikerjakan secara kontinyu, bukan mustahil selesai seperti belasan anak lainnya.
Seorang siswa bernama Fitra Milenio Ololah salah satu siswa yang malas-malasan. Saya pun melihat gelagat siswa-siswa sepertinya dan berencana memberi hukuman untuk memberi efek jera agar tidak menunda-nunda pekerjaan. Hukuman tersebut yakni mengumpulkan satu sepatu dan sepatu tersebut akan saya kembalikan apabila tugas selesai. Dalam pikiran saya, tentu, anak tidak akan pulang terlebih dahulu karena sepatunya masih saya sita.
Yang jelas peristiwa ini terjadi sore hari. Saat saya mengajar kelas sore, karena saat itu ada renovasi gedung yang membuat diadakannya kelas masuk pagi dan masuk siang.
Seorang lelaki dengan makian datang, menanyakan nama saya. Tentu saya kaget karena ada keributan. Saya pun keluar dari kelas yang saya ajar (kelas 8 yang ada Aisyah, materi IPS), dan akan menemui lelaki itu. Dia menunjuk-nunjuk saya sembari dihadang oleh beberapa guru. Seingat saya ada Bu Mery dan Pak Fecky Charly Makalunsenge. Tetap memaki adalah bunga mulutnya dan menunjuk saya, sembari mengatakan anaknya semperti orang miskin dan tidak mampu, pulang membawa sepatu hanya satu.
Sebelum dia menjelaskan itu, saya tetap ngotot dengan teriak "apa salah saya? apa salah saya".
Itu peristiwa pertama saya yang membuat dada gemetar hebat. Tidak saya sangka, keputusan dan strategi saya membuat orangtua marah dan datang dengan memaki pada guru seperti itu.
Esoknya saya dan beberapa saksi guru dipanggil Pak Djafar Kasim, sang kepsek. Saya menjelaskan asal muasal masalah dan beliau sangat adem dan tenang dalam menjelaskan. Berjanji akan memanggil orangtua yang bersangkutan untuk pendamaian.
Kabarnya karena membela saya, Pak Fecky sempat kena pukul di dada.
Sampai sekarang saya tidak akan melupakan peristiwa itu.
Banyak guru menyarankan agar saya mengunci nilai si Fitra. Tapi tidak saya lakukan.
 

8G

 

DI Kelas 8G Tahun Pelajaran 2013/2014, dengan nama awal diisi Aldrianto Baks yang merupakan anak kandung Ibu Fatma Lamalaka. Alfatan kulitnya hitam, dengan beberapa jerawat; Ali Syaifullah Sulaiman si paling suka mencari perhatian, Khairun Nisa anak Cak Agil depan MTs, Ody Bagus Prakosa yang sering ketemu di jalan dan tempat-tempat tertentu di kota, Ridhuwan yang selalu senyum-senyum dan pendiam, Riyandi Asri Tampoy yang akrab dan paling besar di kelas ini. Siti Kholifah anaknya Pak RT.

8D

 


Di kelas 8D Tahun Pelajaran 2013-2014.

Masih ingat fisik dari Adliah, Agustina yang sintal, Anisa berwajah cokelat, Dwi Putri yang sangat mungil dan sering dipanggil "adik". Fitri Defita Damogalad paling besar, Isnan Mongilong kecil; Nevira Mamonto kecil, pendiam, dan pada tahun 2022 menjadi teman guru di SMPN 5 Kotamobagu, Nur Fadli Hulopango sosok humoris yang selalu tersenyum dan penurut, Sri Cicindra yang selalu antusias, Yayu yang selalu kemayu.

Siswa-Siswi Pertamaku

 

Pada segmen siswa-siswa, tidak akan semua siswa saya bahas dan setiap tahun saya posting. Pertama karena memori, tidak semua membuat kenangan baik maupun buruk, dan berkas yang telah hilang. Tentu yang saya tulis di sini adalah yang masih saya ingat dan berharap akan terjaga selamanya melalui tulisan-tulisan.

Kelas 8C Tahun Pelajaran 2013/2014. Saat itu saya masih mengajar IPS.

Tidak ada yang perlu dibahas lebih untuk kelas ini. Sebagian besar seperti pada kelas-kelas lain. Beberapa anak penurut seperti Achmat Oviyanda Palakum, Akba Raupu, Diva Hakim, Farhanudinsyah Mahmud, Ikhsan Wahyu Sigar, Neti Tulong, Reka Fitri Sugeha, Sahril Makadomo, Teguh Aristo Mamonto, Peyni Ahmad Luli, dan sebagainya.

Seto Murdiantoro pemilik tulisan yang paling susah dibaca di kelas ini. Ibnu Sadri Andup yang terakhir menjadi TNI suka senyum-senyum, senada dengan Reka Fitri Sugeha. Anjeli Damopolii yang sipit dan bermata sayu sangat cerewet, terakhir aku temui di Bank SulutGo.

Terpandai kelas ini ada Muhamad Riat Kokong.

Shock Terapy

 "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"

Perubahasa itu menggambarkan shock terapy yang saya temui pada awal-awal mengajar di MTs. Hampir melupakan elemen penting, bahwa budaya di perantauan tentu berbeda dengan budaya di kampung halaman.

Saat pertama datang, duduk di kursi depan ruang kepala sekolah, kaget saat ada siswa bolak-balik lewat di depanku tapi tak ada sebentuk kata permisi pun. Bahkan sikap membungkukkan badan sedikit saja tak dilakukan.

Saya menghabiskan beberapa menit untuk ceramah di luar materi, ketika seorang anak saya panggil dan mengangkat tangan menggunakan tangan kiri. Menjelaskan jika adab di atas segalanya. 

Selain adat, hal lain tentu saja bahasa. Bingung saat saya memanggil nama, yang bersangkutan bertanya "kita, pak guru?".

"Kenapa malah saya ikut juga?"

Ternyata, kita di Bolaang Mongondow dapat berarti "saya".

Guru-Guru (Bagian 3)

 28. Hastuti Ligatu, S.Pd.I.

Tidak banyak tahu guru ini. Saat masuk di MTs, kalau tidak salah tidak lama kemudian beliau keluar mengajar di Induk. Punya anak yang jago pidato bahkan sampai Provinsi.

29. Moh. Robiyanto, S.Pd.I.

Sama sekali tidak tahu.

30. Elita Rangkuti, S.Pd.

Guru IPS asli Medan yang jelas akan berapi-api kalau bercerita, Gaya bicara keras, tapi baik.

31. Mira R. Mokodompit, S.Pd.I.

Guru bahasa Inggris yang ada Islam di belakang gelarnya. Sosok yang tinggi, kurus, namun tegas dalam mengajar. Beliau adik kandung dari Ibu Mery Mokodompit. Ke sekolah memakai matik merah. Rumah di Otam.

32. Idris Masuara, S.Pd.

Pak Idris guru Penjaskes yang memakai motor Jupiter hitam. Sosok temperamental yang pencerita dan mahir dalam sepakbola juga strateginya. Guru penjas yang tegas dan sayangnya tidak terlalu mengeksplor materi berbeda di setiap kelas yang ia ajar, sehingga kesannya monoton.

33. Siti Zubaidah Laoh, S.Pd.

Sesama guru Bahasa Indonesia harus bekerja sama seharusnya. Tapi yang aku ingat saat pertama di MTs adalah ketika beliau menyarankanku bersama seorang murid di sampingnya untuk tidak medok dalam berbahasa, sehingga bisa disukai murid. Beliau dengan tatapan tajam seolah tidak menyukaiku. Beliau tinggi sekali badannya, suaranya keras, dan jika tidak salah mengajar Seni Budaya pula di awal masuk.

34. Masniati Paputungan, S.Pd.I.

Tidak banyak yang teringat dari guru yang selalu datang dan pergi ini. Beliau adalah sosok budok yang datang ke sekolah selalu naik bentor.

35. Risna Paputungan, S.Pd.I.

Orang yang tidak mengenal beliau dengan baik atau lama akan lekas memberi kesan galak dan judes pada beliau. Karena gaya bicaranya memang begitu. Tapi beliau sosok penyayang, suka bercanda, cepat kalau bicara. Selalu gawat jika diminta untuk mengurus sesuatu, honor seangkatan dengan Pak Ratno.

Guru-Guru (Bagian 2)

 14. Laode Sugianto, S.Pd.

Guru Matematika yang dalam bayangannya seperti hanya ada 1 benda: hitung-hitungan. Hadir dalam kehidupanku sebagai sosok distributor LKS yang membuat banyak uangku habis untuk menutupi hutang-hutang LKS yang tidak dibayarkan lunas oleh murid-muridku. Berasal dari Muna, Kendari, beliau sosok baik, menjadi antitesis dari anggapan guru Matematika selalu kejam.

15. Ibrahim Gani, S.Pd.

Aku tidak tahu guru ini.

16. Nasifan, S.Pd.I.

Betapa banyak orang Jawa di Kotamobagu. Salah satunya beliau yang selalu berpikir interprenuer dan bisnis. Beliau aku kenal sebagai sosok baik yang arahnya selalu ke sana. Sehingga jarang masuk kelas. Sekali masuk kelas menjual sesuatu, tak lama, dan sering menelpon juga tertawa. Keramahan beliau berlanjut ke waktu-waktu selanjutnya.

17. Mery Eka S. Mokodompit, S.Pd.I.

Beliau sosok tegas yang baik, ramah, dan kalau bicara selalu ngebut. Beliau suka bercanda dan tak pernah marah kepada siapapun. Beliau juga sangat bersahabat.

18. Drs. Asrun Hasbi Mokodongan

Rokok dan kopi adalah sebentuk lain dari beliau. Guru Fiqih yang fokusnya tak hanya mengajar, namun juga berbisnis seperti pasir, batu, dan sebagainya menggunakan mobil merah pick-up yang khas bunyi knalpotnya. Selalu tertawa kalau berbicara, ramah, dan sangat jarang di meja beliau saat apapun.

19. Hj. Dewi Sartika Ponamon

Beliau adalah sosok ibu. Selalu menasehatiku seperti anaknya sendiri. Beliau juga pencerita apapun, baik, loman, dan seorang mem english. Satu kali bertanya ke beliau, maka jangan harap untuk lekas selesai. Beliau akan banyak cerita namun dengan kisah yang menarik untuk didengar. Satu ungkapan beliau yang paling aku ingat adalah keinginan beliau menjodohkanku dengan anaknya. Sempat kepikiran walau beberapa saat. Tapi tentu tidak berlanjut.

20. Ratna Potabuga, S.Pd.

Aku tidak terlalu paham ini Ratna yang mana. Kemungkinan besar ibu Ratna di Bidang Pendis.

21. Bisman Simbuang, S.Pd.

Sosok yang aku gantikan di MTs.

22. Dra. Fatma Lamalaka

Ibu guru yang gemuk dan menjual makanan ringan ke anak-anak dengan keliling setiap pagi dan siang. Kalau tidak salah, beliau mengajar IPS.

23. Dra. Kasumi Abdullah

Ibu Kasumi adalah guru yang menetap di kantin sekolah. Beliau ramah, baik, tapi ciri khas ibu-ibu. Memiliki anak bernama Indi. Beliau juga berkantin, beberapa kali aku makan di beliau saat benar-benar lapar.

24. Ratno Tompig, S.Pd.

"Bayangkan" dan "Ketika" adalah dua kata ajaib yang membuat kami akan tertawa mengingat gaya bicara beliau yang suka sekali bercerita. Guru Olahraga yang pelan sekali tempo bicaranya.

25. Amran Simbuang, S.Pd.

Di antara banyak guru yang pernah berkonflik denganku, mungkin beliau. Pak Amran mengajar sesama TIK. Pernah bersitegang saat kami berusaha membagi waktu anak-anak ke Lab Komputer. Beliau juga tak terlalu lepas berkawan denganku. Entahlah hanya perasaan aku sensiku yang naik, beliau seperti tak terlalu suka denganku. Semoga hanya ada dalam pikiranku, karena selama bersama beliau dalam satu sekolahpun kami masih bertegur, biasa, dan begitu juga di luar sekolah kemudian.

26. Alamsa Nuri, S.Pd.

Salah satu sosok yang aku anggap kawan adalah guru yang sekampung dengan Pak Laode ini. Selalu berapi-api jika bicara, murah tawa dan senyum, hitam sepertiku, baik, dan guru PPKn yang selalu antusias jika mengajar. Kami bersama-sama hingga lulus PNS.

27. Reflianti Gonibala, S.Pd.I.

Guru Akidah Akhlak yang tampak tidak ramah jika melihat raut wajahnya, tapi mungkin juga itu yang orang lain rasakan saat melihatku. Aslinya beliau baik, ramah, dan memang lebih banyak menghabiskan kata dengan sesama guru perempuan.

Guru-Guru (Bagian 1)

Menggali ingatan bagaimana guru-guru pertama yang aku kenal ini

1. Pak Djafar Kasim, S.Ag

Seorang kepala sekolah yang ke sekolah membawa motor mio biru. Beliau baik, ramah, suaranya agak serak, sudah memasuki masa menunggu pensiun, dengan beberapa tahi lalat, dan menyelingi beberapa kata dengan tawa. Bisa aku katakan, beliau adalah kepsek terbaik yang pernah aku dapatkan. Terlebih saat aku menemui masalah (akan aku bahas nanti). 

"Pak Toni." cara beliau memanggilku, masih terngiang jelas.

2. Moh, Aini, S.Pd.: Seorang guru Bahasa Inggris multitalenta. Seseorang yang kalau ngomong masih sangat medok, berkacamata, dan menguasai bahasa arab juga. Beliau lulusan IKIP Budi Utomo di Malang. Sebenarnya, mengingat beliau ini kasihan juga, terutama hubungannya dengan murid. Anak-anak sangat tidak hormat dan respek pada Pak Aini. Saat mengajar, sering aku temui anak lari ke sana sini, beliau hanya diam dan tetap menerangkan. Jika sudah kelewatan beliau akan teriak "Hei, Hei, Hei.". Bahkan pernah suatu waktu, aku mengatakan pada siswa di kelas untuk tidak meremehkan beliau. karena selain beliau baik, beliau juga lebih pintar dari mereka dan aku pun. 

Salah satu ungkapan beliau yang paling aku ingat adalah saat membahas masalah sumur di musala, beliau bilang "Sumur yang luas.". Sontak pernyataan itu membuat semua orang tertawa puas. Pak Muadzah, yang saat itu masih menjabat sebagai kepsek menanggapi:

"Piye toh Pak Aini ini?"

3. Dra. Retningsih Dasinsingon

Apakah seorang guru PPKn selalu harus tegas? Mungkin tidak juga. Tapi beliau ini luar biasa. Memiliki kedisiplinan yang tinggi, selalu ngotot, marah-marah, emosian, memberikan raut wajah sangar, dan selalu menuntut hapalan-hapalan semua bab di fotokopi buku pada muridnya. Namun lihatlah nilai rapor para siswanya. paling rendah 80 dan jika tak ada kasus apapun, beliau beri nilai selalu di atas 90. Luar biasa.

4. Muadzah, S.Pd., M.Si.

Beliau orang Sumatera tapi juga paham bahasa Jawa. Merantau terlebih dahulu ke Sanger, lalu sampai di Kotamobagu. Guru IPA. Memiliki pengetahuan yang luas, ide-ide yang tepat, dan sosok bapak yang luar biasa. Beliau memperkenalkanku dengan orang-orang hebat dan selalu dilakukan jika ada kegiatan di mana-mana dan membawaku.

5. Leli Ginoga

Tak banyak memori tentang beliau. Ibu guru yang sudah senior, dengan gaya berjalan yang pelan, dan sudah mendekati masa pensiun. Beliau meninggal beberapa bulan setelah aku di sana. Rumahnya di kanan jalan sebelum Lapangan Mongkonai.

6. Idrus Ginoga

Sosok guru Matematika yang kejam selalu hadir di setiap sekolah yang aku temui. Entah di SD (wali kelas), SMP, SMA, dan tempatku mengajar. Beliau perawakannya tegap, tegas, berambut putih, dan bicara apa adanya kalau perlu. Namun jika sudah mengobrol, beliau akan mendominasi. Apalagi dengan orang sesama suku Mongondow. Pak Idrus sosok guru yang hebat. Sayangnya, banyak yang tidak terlalu menyukai beliau. Awalnya termasuk saya. karena kalau beliau bicara selalu merasa paling benar. Selalu beliau potong, menyambungnya dengan kata "bukan begitu". Tapi, percaya atau tidak, omongan beliau memanglah benar dan terbukti. Beliau jarang sakit, selalu masuk kelas tepat waktu, dan blak-blakan. Tak jarang berkonflik dengan guru lain. Bahkan, Pak Idris Masuara pernah mau melempar kursi beliau saat rapat.

7. Musadad Paputungan, BA

Guru yang seangkatan dengan Bu Leli Ginoga. Guru agama yang tak banyak bicara, tapi ramah. Rokok selalu menjadi buah tangannya.

8. Hj. Hasna Londa

Bu Hajah adalah guru Seni Budaya. Beliau gemuk, selalu berlipstik merah tebal, dan ramah. Gaya bicara beliau kencang, tapi selalu menghormati sesama guru meskipun aku yang lebih muda. Beliau tak lama pensiun setelah aku masuk di MTs.

9. Ramna Patingki

Guru Bahasa Indonesia yang tegas, berwawasan luas, dan bicaranya cepat. Beliau memiliki kesan tersendiri untuk para siswa yang pernah beliau ajar. Ungkapan "di ujung cemeti ada emas" adalah khas beliau. Jika mencubit kecil, sakit, dan membekas. Tapi beliau orang baik.

10. Siti Mufaroh Heti, S.Pd.

Beliau satu kampung denganku di Jawa, tapi bertemu di Kotamobagu. Sosok guru yang ramah, enerjik sebelum terkena diabetes, baik, loman, dan sosok penting karena beliaulah aku bisa honor di MTs.

11. Umarudin Dilapanga, S.Pd.I.

Sosok lelaki tampan dalam pandangan siswa maupun guru-guru. Gaya bicaranya pelan, santai, tak banyak bicara tapi ramah, dan jika tertawa pipinya kemerah-merahan. Guru Bahasa Arab yang saat masuk menjadi wakil kepala sekolah sekaligus wali kelas 8E.

12. Sri Helen Talibo, S.Pd.

Guru IPA yang kalau bicara selalu keras, tegas tapi keibuan, dan istri dari seorang tentara.

13. Lulus Ujiyani, S.Pd.

Kok ada orang yang bernama 'Lulus'? Aneh tentu saja. Mungkin doa untuks setiap tahap dan kompetisi yang akan beliau ikuti. Sosok kecil-kecil tapi anaknya 4. Ke sekolah membawa motor mio hitam yang sering mogok. Sangat baik, bahkan super baik, selalu bertanggungjawab dengan apapun yang diamanahkan. Tak ada bibit sombong dalam guru satu ini. Sebagai sesama orang Jawa, kami mudah akrab. Apabila ada hal-hal yang berkaitan dengan ke-Bahasa Indonesiaan juga komputer, tak segan beliau mendekat dan menghubungiku.

TIK dan IPS

Mata Pelajaran yang ditawarkan adalah TIK. Namun pada saat itu, kesempatan untuk honor sangatlah mudah. Aku yang basis Bahasa Indonesia pun diminta untuk mengajar TIK, lalu IPS. Keduanya aku terima karena TIK berhubungan dengan pekerjaanku sebagai operator warnet di Malang dan IPS adalah jurusanku di SMA. Aku memang tak begitu mahir dengan TIK, namun kesan pertama berada di Kotamobagu seperti ini:

"Seseorang yang cukup bisa dengan komputer akan dianggap lebih spesial."

Aku pada akhirnya dirujuk oleh guru-guru sebagai sosok yang tepat jika sebuah pekerjaan menuntut adanya pengoperasian komputer. Apapun itu. Komputer yang eror, kena virus, jaringan, bahkan sampai bikin ini dan itu. Tapi tidak aku sangkal, sebenarnya ilmuku cethek dan apa adanya. Ada satu guru padahal yang jauh lebih mahir, yakni Pak Moh. Aini. Sama-sama orang Jawa, lama di MTs, tapi pegawai Dinas Pendidikan yang dulu diperbantukan di MTs dan keterusan nyaman mengajar di sana.

Pak Muadzah, yang juga orang Jawa, menawariku untuk mengajar IPA. Masih jelas tergambar saat beliau menawariku di sofa merah depan ruang kepsek dan wakil kepsek jika beliau ingin aku mengajar IPA. Aku tolak karena tak ada basisku sedikitpun tentang IPA. Mati kutu saat menemui Kimia bahkan Fisika. Biologi sih bisa saja, tapi untuk hitung-hitungan nol besar.

Untuk sesama TIK, aku mengajar bersama Pak Amran Simbuang. Aku menggantikan Pak Bisman Simbuang sang kakak yang pindah.

Ini adalah jadwal pertamaku berada di MTs. Negeri Kotamobagu Selatan.










 

Pada foto ini, saya yang ketiga dari kiri.
Setelah menamatkan kuliah di Universitas Kanjuruhan Malang tahun 2013, mencari pekerjaan adalah hal tersulit selanjutnya. Menerima tawaran dari tetangga untuk mengajar di salah satu sekolah yang dipimpin oleh kenalannya. Namun, bayaran yang dapat diterima hanya 250 ribu. Hitung-hitungannya, honor sebesar itu takkan cukup untuk keperluan sehari-hari. 
Tawaran datang dari beberapa saudara dari Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Memberi gambaran bahwa di sekitar rumah beliau terdapat 3 sekolah yang dapat aku pilih untuk honor. MAN, MTs, dan SMK. Beliau berjanji akan mengusahakan aku untuk dapat bekerja di salah satunya.
Jika tak salah memori memberi data, saat itu Oktober 2013. Berangkat bersama beberapa orang Kotamobagu yang pulang kampung ke Lumajang, aku pun merantau. Usai 5 tahun tidak ada di rumah, merantau ke Malang, di tahun ke-6 aku kembali jauh. Lebih jauh dengan harus menaiki pesawat, menyeberang ke ujung utara Indonesia, yakni Provinsi Sulawesi Utara.
Sesampainya di Kotamobagu, aku tidak lekas mengajar seperti yang dijanjikan, Terlebih dulu ikuti paman bekerja dengan menjual barang-barang plastik ke daerah-daerah pegunungan seperti Modoinding. Di minggu ke-3 barulah aku diajak paman untuk ke rumah salah seorang guru di MTs bernama Bu Siti Mufaroh Heti. Saya ditawari untuk mengajar Matematika kalau tidak salah. Namun aku menolak. Beliau lanjut menawari untuk mengajar TIK. Tentu aku bersedia karena sebelumnya di Malang aku bekerja di warnet.
Hari pertama aku dilepas oleh Makwo Sulik. Sambil menggendong Yufita Karina Ramadani, aku sungkem ke beliau di depan rumah Makwo Bu Haji Sunik. Di hari pertama tersebut, aku hanya menemui kepala sekolah. Bertanya jawab dan hanya itu. Pulang lebih awal dan kembali esoknya untuk mengajar, bertemu guru-guru yang baik.

Intro

 

Segenap penghuni bumi takkan menduga jika aku akan diberi nama Toni Fradana. Di tengah kehidupan masyarakat Jawa saat itu, bisa jadi nama itu adalah nama yang jarang terpikirkan. Aneh saja ada nama Toni, lalu Fradana pakai {f}, bukan {p} menjadi Pradana seperti anak-anak lain.
Pada suatu sesi bertanya emak mengungkap, jika aku diharapkan seperti seorang aktor Indonesia terkenal saat itu, Barry Prima. Entah dari segi apa. Yang jelas, beberapa harapan ibu tercipta. Seperti bentuk muka yang hampir mirip dan hidung mancung.
Sekilas dari saya. 
Tujuan saya membuat blog ini bukan untuk mengisahkan masa lalu saya yang tentu bagaikan kehidupan seperti yang lainnya. Ada manis, asam, asin, dan tentu pahit. Blog ini akan saya gunakan untuk merawat kenangan saya mengenai profesi saya, yakni sebagai guru.
Akan ada pembahasan tentang lingkungan kehidupan saya sebagai guru. Kelak akan ada yang buruk, baik, perlu sensor, dan sebagainya. Tapi inilah yang ingin aku rawat dan tak ditutup-tutupi.
Bismillah.

Ayah

  Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017. Di kelas ini saya merasa p...