Sabtu, 16 September 2023

Shock Terapy

 "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"

Perubahasa itu menggambarkan shock terapy yang saya temui pada awal-awal mengajar di MTs. Hampir melupakan elemen penting, bahwa budaya di perantauan tentu berbeda dengan budaya di kampung halaman.

Saat pertama datang, duduk di kursi depan ruang kepala sekolah, kaget saat ada siswa bolak-balik lewat di depanku tapi tak ada sebentuk kata permisi pun. Bahkan sikap membungkukkan badan sedikit saja tak dilakukan.

Saya menghabiskan beberapa menit untuk ceramah di luar materi, ketika seorang anak saya panggil dan mengangkat tangan menggunakan tangan kiri. Menjelaskan jika adab di atas segalanya. 

Selain adat, hal lain tentu saja bahasa. Bingung saat saya memanggil nama, yang bersangkutan bertanya "kita, pak guru?".

"Kenapa malah saya ikut juga?"

Ternyata, kita di Bolaang Mongondow dapat berarti "saya".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah

  Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017. Di kelas ini saya merasa p...