Sabtu, 16 September 2023

Ayah

 



Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017.

Di kelas ini saya merasa paling dispesialkan. Bahkan saya bisa membayangkan wajah-wajah perwalian saya sampai sekarang.

Reza si cokelat yang kurus, kecil; Ahmad Siswandi yang selalu saya panggil ISIS; Altico yang bertubuh penuh, suka senyum, dan anstusias saya memanggilnya TICO; Annisa pendiam tidak banyak tingkah; Arif Setiawan anak orang Jawa dan sempat curhat saat dia mulai sering tidak masuk karena diminta orangtuanya untuk bekerja saja dan tidak perlu sekolah; Caroline cewek yang tinggi dan murah senyum, Devansyah selalu antusias dan memahami setiap yang saya jelaskan. Dimas Tri Ramadan adalah sang ketua kelas yang fisiknya kecil, pendek, sempat meminta undur diri sebagai ketua tapi saya tolak. Saya lupa alasannya, tapi hati saya mengatakan jika dia adalah sosok ketua kelas yang paling tepat.

Diva Andira fisiknya kecil. Kami memanggilnya adik atau DEDEK. Farel Paputungan fiisknya putih, bertubuh sedang, tapi kemayu. Jarang bergaul dengan anak-anak lelaki lain. Farhan Buntuan pendiam, tidak banyak tingkah, tapi disiplin. Fatur harus banyak perhatian agar tidak ikut teman-temannya yang kurang baik. Bahkan saya sempat mencarinya sampai MAN karena ada laporan dia membolos. Filippo Inzaghi pemilik nama unik, bertubuh full, dan antusias. Firja penurut, tidak banyak tingkah.

Firmansyah anak bapak yang bekerja di tambang Papua. Dia ganteng, selalu PD dengan itu. Bapaknya pernah memberi oleh-oleh berupa kacamata dan sepatu proyek yang bagian depannya besi. Fitria sang bendahara kelas, Fitriani Pasi kami panggil PITI, Fitriani Taha gemuk dan ramah sampai setiap kali kita bertemu, Geini Alfriani Mokoagow seorang albino yang unik dan antusias di setiap pertemuan. Ia berkawan dekat dengan si Diva. Pokoknya ada Geini, ada Diva.

Gilang Bida pendiam, tidak banyak tingkah dan paling disiplin. Ilham perlu banyak perhatian karena malasnya minta ampun. Dia hadir, tapi tugas-tugas selalu ditunda. Jihad selalu berkopyah putih dan disiplin. Jihan humble, ramai tapi selalu membuat tugas. Ia takkan menyia-nyiakan amanah jika dititipkan. Keysi Laute sosok yang suka bergaul. Khairun sosok pendiam dengan rumah di Lobong (paling jauh) dan salah satu siswa terpintar. Lisi si murah senyum, Marhamah si kecil anak orang Jawa yang pintar.

Mili Manggopa anak yang pernah aku temui saat hari raya Idul Fitri pelesir bersama teman-temannya di rumah saat dia SD dan ketika saya tanya lanjut di mana, tegas ia menjawab MTs. Berjodoh jadi anak saya di perwalian kelas 8B.

Nadya pendiam, Nana yang super duper ceret bukan main, Rahmat Beni yang tak banyak cakap, Rena Lobata yang penurut dan antusias, Reswara Adilah Masloman si wakil ketua yang penurut dan sangat amanah. Risma anaknya Cak Bambang, Shella Manoppo siswa terpintar, Shinda yang hahehahe senyam-senyum tapi penurut, Siti Anggraini Dunggio yang rumahnya di Molinow, pemilik tahi lalat di atas bibir; Siti Nuraisyah yang rumahnya di Lorong Hijrah dan dipanggil Inul. Siti Zuleha Kustomo yang sangat pendiam. Syadina si paling disiplin yang butuh arahan agar lebih baik, Tracy gadis berjerawat anak Motoboi, dan Yuliana Lasahidi yang kulitnya seperti Reza dan aktif.

Pada perwalian di kelas ini, beberapa momen yang saya tangkap sebagai berikut:

Saya paling tidak suka melihat anak yang Alpa. Sehingga ketika saya lihat ada satu saja anak tidak masuk, akan saya hubungi orangtuanya. Trik saya, menghubungi orangtua harus di depan anak-anak lain. Sehingga semua tahu jika anak tersebut bolos, alpa, izin, atau bahkan sakit.

Saya menerapkan kewajiban untuk salat di Musala. Yang tidak salat akan saya bariskan beberapa saf di depan kelas, lalu saya minta sujud atau melaksanakan gerakan salat sesuai dengan instruksi. Sesekali saya membuat lama di rukuk, sujud, dan sebagainya. Cara ini ternyata sangat ampuh.

Di kelas ini saya dipanggil "Ayah". Panggilan yang menggetarkan hati saya. Mungkin karena saya benar-benar ingin menganggap mereka, anak-anak luar biasa ini, sebagai anak-anak saya. Ketika mereka terancam, saya berjanji akan selalu di depan. Saat melakukan pelanggaran, saya akan yang paling utama menghukum dan menasehati mereka. Ketika mereka berkonflik, selalu saya cari jalan keluar. Saya perhatikan setiap hari, datang ke mereka. Menjenguk jika ada yang sakit, merembug banyak hal untuk masalah-masalah yang datang, selalu ingin kekeluargaan dan kompak, juga segala bentuk perhatian lain. Mungkin, hal itu yang membuat mereka tergerak dan memanggilku dengan sebutan 'ayah'.

Pernah di momen 11 April, mereka saya ketahui belum pulang. Beni datang dan melaporkan jika ada perkelahian di kelas. Saya menyesal tidak berlaga seperti kaget dan marah. Saya datang dengan biasa dan mereka membawa kue juga hiasan-hiasan.

Farel, Gilang, Jihad, Lisi, Diva, Firja, Caroline, Geini (dua sebelah kanan dari kelas 8A)









Hai anak-anakku. Entah kalian sudah lupa dengan saya, baik sengaja ataupun tidak, kalian akan tetap saya anggap sebagai anak-anak saya yang luar biasa.
8B 2016/2017 selamanya.
Sukses selalu ya untuk kalian. Setiap lekuk senyuman di kelas itu, takkan pernah Pak Guru lupakan.


Kelas 7 dan Kelas 8 yang Aku Ajar






Chaska Modeong yang aktif, Nazril Hatam yang pandai, Rian yang selalu bingung, Cindra yang selalu tampak gawat, Dona yang pernah ditampar oleh Wahyu Sondakh, Giza yang selalu antusias dan mencari tahu. Salah satu kelas terbaik.

Kelas terbaik lainnya adalah kelas 8A, yang disebut sebagai salah satu kelas kumpulan anak-anak pintar dari kelas 7 tahun sebelumnya.
 

Kelas 9 di Tahun Pertama







 

Rima dan Jihan

Di antara banyak kelas di tahun pertama saya mengajar, paling malas berada di kelas 9A ini. Masih enak mengajar si Amar, Fadlul Hadi, Luckvia, Agam Islam, Rania Mokobombang, Riska Maka maupun Riska Imarto. Paling malas menemui sosok seperti Agif Estian Sengang, Nur Jihan Maleteng, dan Rima Melati Iskandar. Tiga sosok yang pandangannya, raut mukanya, dan sikapnya tampak pandang enteng dengan kehadiranku sebagai guru baru. Tidak ada sikap keduanya yang menunjukkan keramahan, antusias, bahkan sikap menurut seperti siswa-siswi lainnya. Jihan dan Rima memang pandai, tapi apalah arti pandai tanpa diimbangi dengan adab yang baik.

Jihan tidak memiliki sikap yang baik. Bahkan pada saat praktik di Lab Komputer, pernah suatu ketika ada praktik untuk membuat email. Sudah saya wanti-wanti untuk tidak membuka medsos seperti Twitter dan Facebook. Tapi seolah tunarungu, Jihan dan Rima malah bertanya "Apakah boleh membuka FB" di beberapa detik setelah saya menjelaskan. Setelah itu, berdasarkan yang saya lihat dan lekas keduanya minimize, juga atas laporan kawan-kawan mereka, Jihan dan Rima membuka FB dan Twitter.

Saya masih ingat dan akan tetap ingat dengan wajah keduanya. Sosok menjengkelkan yang saya harap tidak saya temui dan rasakan lagi dengan murid-murid saya setelahnya. Karena jika diperingkat mengenai siswa paling menjengkelkan, dua nama tersebut berada di paling atas.

Agif hanyalah dayang dari keduanya. Ia ikut-ikutan saja.

Didatangi dan Dimaki Orangtua Siswa

Peristiwa ini terjadi pada tahun pelajaran 2014-2015. Tapi saya bahas di sini karena tidak ada berkas pada tahun tersebut. Namun tokoh utama berada di salah satu barisan nama di kelas 8H ini.
Saat itu saya mengajar TIK di kelas 9. Terdapat tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa. Tugas tersebut tidak banyak, hingga jika dikerjakan secara kontinyu, bukan mustahil selesai seperti belasan anak lainnya.
Seorang siswa bernama Fitra Milenio Ololah salah satu siswa yang malas-malasan. Saya pun melihat gelagat siswa-siswa sepertinya dan berencana memberi hukuman untuk memberi efek jera agar tidak menunda-nunda pekerjaan. Hukuman tersebut yakni mengumpulkan satu sepatu dan sepatu tersebut akan saya kembalikan apabila tugas selesai. Dalam pikiran saya, tentu, anak tidak akan pulang terlebih dahulu karena sepatunya masih saya sita.
Yang jelas peristiwa ini terjadi sore hari. Saat saya mengajar kelas sore, karena saat itu ada renovasi gedung yang membuat diadakannya kelas masuk pagi dan masuk siang.
Seorang lelaki dengan makian datang, menanyakan nama saya. Tentu saya kaget karena ada keributan. Saya pun keluar dari kelas yang saya ajar (kelas 8 yang ada Aisyah, materi IPS), dan akan menemui lelaki itu. Dia menunjuk-nunjuk saya sembari dihadang oleh beberapa guru. Seingat saya ada Bu Mery dan Pak Fecky Charly Makalunsenge. Tetap memaki adalah bunga mulutnya dan menunjuk saya, sembari mengatakan anaknya semperti orang miskin dan tidak mampu, pulang membawa sepatu hanya satu.
Sebelum dia menjelaskan itu, saya tetap ngotot dengan teriak "apa salah saya? apa salah saya".
Itu peristiwa pertama saya yang membuat dada gemetar hebat. Tidak saya sangka, keputusan dan strategi saya membuat orangtua marah dan datang dengan memaki pada guru seperti itu.
Esoknya saya dan beberapa saksi guru dipanggil Pak Djafar Kasim, sang kepsek. Saya menjelaskan asal muasal masalah dan beliau sangat adem dan tenang dalam menjelaskan. Berjanji akan memanggil orangtua yang bersangkutan untuk pendamaian.
Kabarnya karena membela saya, Pak Fecky sempat kena pukul di dada.
Sampai sekarang saya tidak akan melupakan peristiwa itu.
Banyak guru menyarankan agar saya mengunci nilai si Fitra. Tapi tidak saya lakukan.
 

8G

 

DI Kelas 8G Tahun Pelajaran 2013/2014, dengan nama awal diisi Aldrianto Baks yang merupakan anak kandung Ibu Fatma Lamalaka. Alfatan kulitnya hitam, dengan beberapa jerawat; Ali Syaifullah Sulaiman si paling suka mencari perhatian, Khairun Nisa anak Cak Agil depan MTs, Ody Bagus Prakosa yang sering ketemu di jalan dan tempat-tempat tertentu di kota, Ridhuwan yang selalu senyum-senyum dan pendiam, Riyandi Asri Tampoy yang akrab dan paling besar di kelas ini. Siti Kholifah anaknya Pak RT.

8D

 


Di kelas 8D Tahun Pelajaran 2013-2014.

Masih ingat fisik dari Adliah, Agustina yang sintal, Anisa berwajah cokelat, Dwi Putri yang sangat mungil dan sering dipanggil "adik". Fitri Defita Damogalad paling besar, Isnan Mongilong kecil; Nevira Mamonto kecil, pendiam, dan pada tahun 2022 menjadi teman guru di SMPN 5 Kotamobagu, Nur Fadli Hulopango sosok humoris yang selalu tersenyum dan penurut, Sri Cicindra yang selalu antusias, Yayu yang selalu kemayu.

Ayah

  Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017. Di kelas ini saya merasa p...