Sabtu, 16 September 2023

Didatangi dan Dimaki Orangtua Siswa

Peristiwa ini terjadi pada tahun pelajaran 2014-2015. Tapi saya bahas di sini karena tidak ada berkas pada tahun tersebut. Namun tokoh utama berada di salah satu barisan nama di kelas 8H ini.
Saat itu saya mengajar TIK di kelas 9. Terdapat tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa. Tugas tersebut tidak banyak, hingga jika dikerjakan secara kontinyu, bukan mustahil selesai seperti belasan anak lainnya.
Seorang siswa bernama Fitra Milenio Ololah salah satu siswa yang malas-malasan. Saya pun melihat gelagat siswa-siswa sepertinya dan berencana memberi hukuman untuk memberi efek jera agar tidak menunda-nunda pekerjaan. Hukuman tersebut yakni mengumpulkan satu sepatu dan sepatu tersebut akan saya kembalikan apabila tugas selesai. Dalam pikiran saya, tentu, anak tidak akan pulang terlebih dahulu karena sepatunya masih saya sita.
Yang jelas peristiwa ini terjadi sore hari. Saat saya mengajar kelas sore, karena saat itu ada renovasi gedung yang membuat diadakannya kelas masuk pagi dan masuk siang.
Seorang lelaki dengan makian datang, menanyakan nama saya. Tentu saya kaget karena ada keributan. Saya pun keluar dari kelas yang saya ajar (kelas 8 yang ada Aisyah, materi IPS), dan akan menemui lelaki itu. Dia menunjuk-nunjuk saya sembari dihadang oleh beberapa guru. Seingat saya ada Bu Mery dan Pak Fecky Charly Makalunsenge. Tetap memaki adalah bunga mulutnya dan menunjuk saya, sembari mengatakan anaknya semperti orang miskin dan tidak mampu, pulang membawa sepatu hanya satu.
Sebelum dia menjelaskan itu, saya tetap ngotot dengan teriak "apa salah saya? apa salah saya".
Itu peristiwa pertama saya yang membuat dada gemetar hebat. Tidak saya sangka, keputusan dan strategi saya membuat orangtua marah dan datang dengan memaki pada guru seperti itu.
Esoknya saya dan beberapa saksi guru dipanggil Pak Djafar Kasim, sang kepsek. Saya menjelaskan asal muasal masalah dan beliau sangat adem dan tenang dalam menjelaskan. Berjanji akan memanggil orangtua yang bersangkutan untuk pendamaian.
Kabarnya karena membela saya, Pak Fecky sempat kena pukul di dada.
Sampai sekarang saya tidak akan melupakan peristiwa itu.
Banyak guru menyarankan agar saya mengunci nilai si Fitra. Tapi tidak saya lakukan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayah

  Pada tahun-tahun sebelumnya, saya sempat menjadi Wali kelas 8E, 8C, lalu kelas 8B di tahun Pelajaran 2016/2017. Di kelas ini saya merasa p...